Editorial Headline
Home » Berita » Abolisi untuk Lembong dan Amnesti Bagi Hasto: Angin Perubahan dari Istana

Abolisi untuk Lembong dan Amnesti Bagi Hasto: Angin Perubahan dari Istana

Dr. Sutrisno K Djawa kembali terpilih sebagai Rektor Unismuh Luwuk Banggai periode 2024-2028. [Foto: Istimewa]

Oleh: Dr. Sutrisno K Djawa SE., MM., (Rektor Unismuh Luwuk Banggai)

LANGKAH awal pemerintahan Presiden terpilih Prabowo Subianto mengejutkan sekaligus menyejukkan. Keputusan memberi abolisi kepada Thomas Lembong, serta amnesti kepada Hasto Kristianto  menandai awal yang tidak biasa dalam tradisi kekuasaan di Indonesia: sebuah politik yang memulihkan, bukan membalas.

Di tengah atmosfer politik yang sejak 2014 terus terbelah, manuver ini dapat dibaca sebagai “wind of change”, hembusan angin segar yang membawa arah baru dalam pendekatan kekuasaan. Ini bukan hanya soal hukum, tetapi soal arah moral dan politik dari seorang presiden terpilih yang ingin menunjukkan bahwa kekuasaan bisa dipakai untuk merangkul, bukan menyingkirkan.

Antara Hukum dan Rekonsiliasi

Abolisi yang diberikan kepada Thomas Lembong, mantan Kepala BKPM sekaligus tokoh teknokrat yang dekat dengan kubu lawan politik, menjadi penanda bahwa pemerintahan baru ingin membuka lembaran baru tanpa prasangka politik. Lembong bukan sosok kriminal, melainkan bagian dari elite intelektual reformis yang bisa menjadi aset bangsa jika diberi ruang.

Kasat Usman yang Saya Kenal

Begitu pula dengan amnesti bagi Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP yang sempat terseret dalam konflik hukum di tengah tahun politik. Amnesti ini diberikan atas dasar prinsip keadilan restoratif, maka pemerintah menunjukkan bahwa politik balas dendam tidak menjadi bagian dari kamus kekuasaan Prabowo.

Secara konstitusional, abolisi dan amnesti adalah hak prerogatif presiden yang diatur dalam Pasal 14 UUD 1945, dengan pertimbangan Mahkamah Agung atau DPR. Namun secara politis, keduanya adalah simbol kekuasaan yang menyejukkan, kekuasaan yang digunakan untuk menyelesaikan dendam, bukan memperpanjang luka.

Kekuatan Simbolik

Apa yang dilakukan Prabowo di awal pemerintahannya mengingatkan pada langkah Nelson Mandela di Afrika Selatan, yang memilih rekonsiliasi ketimbang pembalasan setelah naik sebagai presiden. Prabowo, dengan latar belakang militer dan reputasi keras, justru menunjukkan sisi negarawan: berani memaafkan, dan membuka pintu politik lintas kubu.

Di tengah masyarakat yang lelah oleh polarisasi, tindakan ini memberi harapan bahwa lima tahun ke depan tidak akan diwarnai politik adu domba, tetapi kerja bersama untuk membangun Indonesia.

Mengembalikan Ruh Perencanaan Pembelajaran

Namun, langkah seperti ini tentu tidak bebas risiko. Publik akan menguji motifnya: Apakah ini murni untuk persatuan, atau bagian dari “deal politik”? Apakah proses hukum yang telah berjalan dihentikan demi kepentingan politik, atau karena memang tidak berdasar?

Untuk itu, transparansi adalah kunci. Pemerintah harus menjelaskan dasar pertimbangan abolisi dan amnesti secara terbuka, agar kepercayaan publik tetap terjaga. Apalagi, jika keputusan ini melibatkan tokoh-tokoh sentral partai politik, sensitivitas publik akan semakin tinggi.

Kalau keputusan ini betul murni untuk rekonsiliasi , maka Prabowo akan tercatat sebagai pemimpin yang mengawali masa jabatannya dengan pendekatan inklusif dan memulihkan.

Ia tidak hanya menjadi simbol kemenangan elektoral, tetapi juga presiden pemersatu yang mengobati luka demokrasi.

Dengan memberikan tempat bagi pihak lawan untuk tetap berkontribusi, Prabowo sesungguhnya sedang menguji kematangan demokrasi kita sendiri. Apakah kita siap menjalani politik sebagai arena kolaborasi, bukan konfrontasi?

Satreskrim Polres Banggai Ringkus Pelaku Penculikan Anak di KM 5 Luwuk

Abolisi dan amnesti ini mungkin hanya langkah kecil dalam struktur hukum, tetapi dampaknya bisa sangat besar dalam membentuk narasi pemerintahan lima tahun ke depan.

Dan mungkin, dari sinilah angin perubahan benar-benar berembus dari Istana. Apakah angin perubahan dari istana akan sampai juga ke daerah yang sesudah pilkada serentak terjadi polarisasi? Wallahualam fiisawab. ***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN PASPOR

Tentatang Kami

Radar Sulawesi merupakan media online yang hadir di Kota Luwuk, memberikan informasi terkini, akurat, dan terpercaya bagi masyarakat Sulawesi, khususnya di wilayah Luwuk dan sekitarnya. Dengan komitmen untuk menyajikan berita yang objektif dan berimbang, RadarSulawesi.id menjadi sumber utama bagi pembaca yang ingin mendapatkan update terbaru seputar politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga peristiwa lokal yang sedang berkembang.

Berita Populer

01

Diduga Oknum Pejabat Kampus Untika Luwuk Lakukan Pelecehan Seksual di Atas Kapal Feri

02

Saat Digrebek, Warga Sebut Anggota DPRD Banggai Fraksi Gerindra Diduga Sembunyi di Kamar Mandi Hampir 1 Jam

03

Langgar Netralitas Hingga Terjerat Kasus Pidana, 9 Kades dan 2 BPD di Banggai Diberhentikan

04

Kades Maralee Dipanggil Penyidik Tipidkor Polda Sulteng Terkait Dugaan Korupsi APBDes

05

Anggota Dewan Bangkep Warning Timses Bupati, Ikbal: Jangan Intervensi Kebijakan Pemda!

06

Kejati Sulteng Sita Sejumlah Aset Saat Geledah Rumah Mantan Kades Tamainusi

07

Pernyataan Warga Desa Menyoe dan Perjalanan Investasi PT CAS

08

Formulir Model C.Hasil-KWK di 89 TPS, ATFM Unggul 896 Suara dari Paslon 03

09

Wow, !!! PT Yuliani Amanah Construction Dukung Mayday Grasstrack, Sumbang Dana Rp.100 Juta

10

ATFM Ungguli Anti-Bali di PSU, Ribuan Warga Banggai Rayakan Kemenangan

Sosial Media